Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan

Steamed Moist Chocolate Cake


Cake ini saya buat beberapa minggu yang lalu sebagai hadiah untuk salah seorang teman yang saat itu anaknya sedang berulang tahun. Kebetulan saya sudah bookmark resep cake kukus dari mba Hesti yang sudah lama ingin saya coba. Tapi karena kesibukan yang lain (gaya euy...), jadinya keinginan tersebut tertunda terus, hingga akhirnya saya kepikiran untuk memberikan kue sebagai hadiah ulang tahun.

Kebetulan juga semua bahan lengkap di pantry. Jadilah tanpa ba bi bu, langsung menuju dapur dan mengeksekusi resep ini. Karena kue nya akan diberikan sebagai hadiah, tentu saja saya tidak bisa mencicipi hasil akhirnya. Tapi karena akan dijadikan perbandingan, bagian pinggir kuenya saya potong sedikiiiiiiiit sekali (hihihi... maap ya uni humai...ga keliatan kan??). Dari yang sedikit menurut saya kue nya enak dan butternya terasa. Tapi berhubung saya tidak pecinta cake yang terasa butternya, jadi lain kali jika ingin me remade kue ini, butter akan saya ganti dengan minyak sayur. Selain untuk lebih menonjolkan rasa coklatnya, minyak sayur juga akan menjaga kue nya tetap lembut. Eh, itu menurut pendapat dan selera saya loh ya. Maklum lah, lidah wong ndeso. Hehehe..


Untung baking pan nya, saya menggunakan round pan diameter 18cm. Tapi tetap saja hasilnya tidak terlalu tinggi. Tapi untunglah masih bisa dibelah. Kebetulan juga saya punya sedikit homemade strawberry jam yang saya buat beberapa waktu sebelumnya dan masih bertengger indah didalam lemari es tanpa tersentuh sedikitpun.

Katanya siiih...kue nya enak..hehe...Alhamdulillah...Hati senang karena bisa praktek resep baru, plus sekalian belajar dekor (yang pastinya terlihat amat sangat amatiran), plus bahagia karena bisa sharing kue. Mudah-mudahan yang menerima senang dengan kiriman kuenya...

Anyway...ini resepnya yang saya lihat dari blog mba hesti...

Bahan

180 gr butter
200 gr gula pasir
200 ml evaporated milk
2 butir telur, kocok lepas
100 gr terigu
50 gr coklat bubuk
1/2 sdt baking powder
1/2 sdt baking soda
Vanilla bean/ vanilla ekstrak/ vanilla bubuk
Selai strawberry atau selai lainnya sesuai selera

Cara:

1. Campur butter, gula pasir dan evaporated milk dalam saucepan, panaskan hingga gula larut dan butter meleleh. Matikan api. Biarkan hingga hangat.
2. Masukkan telur kedalam campuran susu yang sudah hangat (tidak terlalu panas lagi), aduk2.
3. Diwadah lainnya, ayak semua bahan kering. Masukkan campuran susu dan telur. Aduk rata.
4. Segera tuang kedalam loyang yang telah dialas baking paper dan dioles minyak. Tutup longgar bagian atasnya dengan aluminium foil. Masukkan kedalam kukusan yang telah dipanaskan sebelumnya. Masak hingga matang sekitar 40-45 menit atau hingga matang.
5. Angkat, dinginkan. Belah dua, isi dengan selai strawberry, lalu hias sesuai selera. Bisa menggunakan chocolate ganache atau menggunakan cream seperti gambar diatas. Atau mau dimakan plain juga enak kok.


Selamat mencoba... ^^

DIY Tube Pan Untuk Chiffon Cake



Belum pernah membuat chiffon cake? Terus begitu browsing ketemu resep yang menggunakan tube pan atau loyang bulat yang ada bolong tengahnya? Lantas mengurungkan niat karena ternyata tidak punya loyang tersebut? Hmmm...tunggu dulu.. Jangan buru2 buka online shop (curhat deh..).

Dari dulu ingin rasanya memiliki tube pan untuk membuat chiffon cake seperti yang biasanya saya lihat di google atau di youtube. Tapi di kantong saya, tube pan itu termasuk kategori mahal (disini, kalau di Indo sih ga tau... :D ). Karena itu saya lebih memilih untuk menggunakan loyang apa saja yang saya punya untuk membuat chiffon. Alhamdulillah hasilnya tetap lembut ( kata suami saya loh... hihihi)

Lalu sebenarnya tube pan itu untuk apa? Well, saya bukan ahli baking2an. Ini menurut analisa abal2 saya saja ya. Semoga benar, atau paling tidak mendekati lah.. hehe.. Dalam pembuatan chiffon cake atau jenis kue yang harus memisahkan kuning dan putih, timing adalah segalanya. Setelah mencampur adonan putih dan kuning, adonan harus segera dimasukkan kedalam oven yang telah dipanaskan sebelumnya. Hati2 dengan suhu juga. Suhu oven yang terlalu panas menyebabkan permukaan chiffon retak. Bila terlalu rendah, chiffon berpotensi bantat karena suhu tidak cukup panas untuk membuat adonan set. Hubungannya dengan tube pan? ga ada ding...hehe..

Karena adonan chiffon biasanya lebih banyak, jadi bila menggunakan loyang bulat diameter 24cm misalnya, chiffon akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk matang terutama dibagian tengahnya. Biasanya, bagian pinggir akan matang lebih cepat matang dari pada bagian tengah cake. Makanya kenapa saat test tusuk yang disuruh tusuk adalah bagian tengah bukan bagian pinggir. 

Karena chiffon cake supposedly adalah cake yang lembut dan airy, jadi bila terlalu lama didalam oven menunggu bagian tengah matang, mengakibatkan bagian pinggiran cake yang telah lebih dulu matang menjadi kering atau tidak selembut bagian tengah. Jadi, tujuan menggunakan tube pan saat memanggang chiffon cake adalah agar adonan cake matang sempurna secara merata dan menyeluruh dalam rentang waktu yang sama.



Tapi bukan berarti suatu keHARUSan untuk menggunakan tube pan. Bisa saja pastinya menggunakan loyang yang lain, segi empat, bulat atau persegi, atau apapun. Yang harus diingat adalah sebaiknya tidak menggunakan loyang yang diameternya kecil sehingga menghasilkan chiffon yang tinggi. Karena semakin tinggi volume nya semakin lama waktu yang dibutuhkan bagi chiffon untuk matang sempurna. Bila terlalu lama dipanggang, bisa dipastikan chiffon akan cenderung kering dan tidak terlalu lembut lagi.

Cara yang paling efisien adalah dengan melakukan konversi resep sesuai dengan loyang yang akan kita gunakan. Bisa googling cara konversinya bila belum familiar. Atau, ada juga yang meletakkan benda kecil ditengah cake selama proses pemanggangan sebagai media pengantar panas agar bagian tengan cake juga matang disaat bersamaan dengan bagian pinggir.

Masih ngotot ingin menggunakan tube pan tapi tidak punya dan tidak mau beli? Saya ada triknya. Bukan ide dari saya sih. Waktu itu saya iseng mencari ide untuk membuat cake box sendiri, tapi malah nyasar disalah satu artikel (yg saya lupa save dan tidak ingat sama sekali key word nya) tentang DIY tube pan.

Caranya gampang. Ambil loyang bulat (saya menggunakan loyang diameter 24cm), lalu letakkan ramekin atau benda lain yang berdiameter lebih kecil dari diameter loyang dan tahan panas pastinya, lalu letakkan ditengah2 loyang. Agar lebih secure dan jika memungkinkan, tumpuk atau beri beban benda tersebut untuk memastikan tidak akan ada adonan yang merembes dibawahnya. Untuk sementara saya cuma recommend menggunakan DIY ini untuk cake yang adonannya kental seperti chiffon. Untuk cake yang adonannya lebih encer, saya belum tau sih bisa atau tidaknya... Belum pernah coba soalnya. Hmm.. next project kue sarang semut pakai tube pan DIY nih sepertinya..

Dibagian tengah cake saya letakkan ramekin. Aslinya saya tumpuk 2, tapi yang satu udah keburu diambil karena ga sabaran mau lihat hasil cake nya.. :)


So... tunggu apa lagi.. yuk, segera coba bikin chiffon cake.. Sekali coba pasti ketagihan deh..hihi...Selamat mencoba.. ^^

Sate Padang (Padang-an)


Hhhmmm...sate padang-padang-an...Yup, saya ga berani kasih judul sate padang beneran karena saya ga pernah tau resep asli sate padang itu seperti apa. Sebelumnya saya juga sudah pernah posting resep sate padang. Tapi karena kebetulan beberapa hari yang lalu masak sate padang, ya sudah sekalian saya posting lagi saja sekalian update fotonya.. hehe..


Masak sate ini juga karena permintaan dari suami yang ingin memberi makanan khas Indonesia kepada salah satu temannya yang notabene adalah bule. Kebetulan di freezer masih ada stok daging sapi 1kg yang sudah lama tak tersentuh. Kebetulan juga sudah lamaaa sekali saya tidak pernah bikin sate lagi. Kebetulan lagi saya masih punya sisa tusuk sate dilemari. Naaah, kebetulan-kebetulan itulah yang akhirnya memantapkan semangat saya untuk langsung terjun ke medan dapur dan berjuang memasak sate padang ini. Alhamdulillah feedback dari si bule juga memuaskan. "So delicious, but HOT", seperti itulah kira2 komentar si bule tadi. hehe..Alhamdulillah..



Ini resep sate padang ala saya

Bahan:
1 kg daging sapi (with fat)
1L air (secukupnya untuk merebus daging)
2 buah star anise
4 buah kapulaga
5 buah cengkeh
2-3cm kayu manis
1/4 sdt pala bubuk
1 buah sereh, digeprek
3 lembar daun salam
4 lembar daun jeruk
3 batang daun bawang

Bumbu halus:
1/2 potong bawang bombay
6-7 siung bawang putih
2 ruas jari kunyit
2 ruas jari jahe
2 ruas jari laos
1/2 sdt ketumbar bubuk
1 sdt cabe bubuk (atau cabe halus sesuai selera)
Garam
Merica
Gula pasir
Kaldu blok/bubuk (optional)

Pengental:
200gr tepung beras

Bahan pelengkap:
Lontong/ketupat
bawang goreng
Kerupuk balado

Cara:
1. Cuci bersih daging, lalu baluri dengan bumbu halus. Diamkan minimal 30menit atau semalaman.
2. Rebus daging dan bahan2 yang lain hingga daging empuk. Angkat daging, dinginkan. Potong2 daging sesuai selera, lalu tusuk menggunakan tusuk sate. Sisihkan.
3. Masak kembali air kaldu sisa merebus daging. Tambah sedikit air bila perlu. Lalu tes rasa. Bila sudah pas dengan selera, ambil sedikit kuah lalu campur dengan tepung beras hingga tepung larut (campurkan setengah bagian tepung terlebih dahulu, bila kurang kental tambah sedikit demi sedikit). Aduk rata dan teruskan memasak hingga kuah mengental dan meletup2. (Kuah akan semakin mengental bila sudah dingin)
4. Bila daging sate terasa hambar, taburi dengan sedikit garam lalu diamkan sebentar. Lalu panggang (atau bakar). Saat membakar sate bisa dioles dengan minyak bawang (goreng beberapa siung bawang putih yang telah diiris menggunakan api kecil, lalu gunakan sisa minyak untuk mengoles sate saat dibakar).
5. Tata ketupat/lontong dipiring, sajikan dengan beberapa tusuk sate. Tuang sedikit kuah, lalu taburi dengan bawang goreng. Beri kerupuk balado sebagai pelengkap. (note: disini saya suka makan kuah sate dengan kerupuk kentang asda). Sate padang siap disajikan.



Dari beberapa resep sate padang yang saya browsing, kebanyakan menambahkan bumbu kari didalam kuahnya. Boleh juga untuk dicoba. Anyway... bagi saya pribadi sate ala padang-padang-an ini lumayan lah untuk mengobati rasa kengen setelah lebih dari 3 tahun tidak ketemu abang tukang sate di Padang.. hehee...

Selamat mencobaa.. ^^

Hamil dan Melahirkan di Newcastle, UK

Sudah lama sebenarnya ingin menuliskan pengalaman hamil dan melahirkan di uk di blog ini, namun apa daya... Draft hanya tinggal draft yang sudah tidak tersentuh berbulan-bulan dan akhirnya terlupakan. Untunglah seorang teman yang pada suatu hari meminta saya untuk sharing pengalaman tentang hamil dan melahirkan di uk sini, secara tidak langsung mengingatkan saya kembali pada draft itu.

Alhamdulillah, puji syukur hanya kepada Allah Ta'aala yang telah menitipkan amanah dan tanggungjawab yang luar biasa indahnya kepada keluarga kecil kami. Ya, hari itu tepat pada bulan mei tahun 2013 saya positif hamil. Sesuai prosedur yang ada disini, saya "melapor" ke GP, sejenis klinik kesehatan yang tersebar di beberapa tempat di uk. Disini memang tidak seperti di Indonesia yang terdapat banyak sekali dokter praktek kandungan. Tempat layanan kesehatan disini secara umum dibagi dalam beberapa bagian.
Pusatnya adalah Royal Victoria Infimary (RVI), adalah sebuah rumah sakit umum yang besar dan satu-satunya di Newcastle. Tidak semua orang sakit bisa langsung mendatangi RVI. Bahkan saat kasus emergency pun secara prosedur harus menghubungi pihak emergency terlebih dahulu sebelum diijinkan datang kesana. Pada kasus lain, pasien yang datang ke RVI adalah pasien rujukan dari dokter dan bidan yang ada di GP. GP menurut saya sama seperti klinik di Indonesia. GP tersebar di beberapa tempat. Setiap warga, baik itu warga lokal maupun pendatang yang menetap di uk diwajibkan untuk mendaftarkan diri di GP yang mereka inginkan, semakin dekat dengan alamat rumah semakin baik menurut saya. Lalu, setiap warga akan mendapatkan nomor NHS, National Health Service. Bagi kami pendatang dengan status pelajar, biaya kesehatan ditanggung oleh pemerintah uk. Namun sistem di GP pun tidak bisa seenaknya tinggal datang langsung diservice. Bila ingin bertemu dengan dokter, pasien diharuskan untuk membuat appoinment terlebih dahulu. Bila sedang mujur, si pasien dapat bertemu dokter keesokan harinya. Namun bila tidak, kemungkinan bertemu dokternya baru beberapa hari kemudian. Tak jarang ada yang sudah sembuh duluan sebelum sempat bertemu dokter. Hehe..Tapi jangan khawatir, untuk kasus yang butuh penanganan segera seperti luka kecil yang butuh jahitan, terbentur, keseleo, dll, atau bagi pasien yang khawatir akan penyakitnya bisa datang ke Walk In Centre. Walk in ini hampir sama dengan klinik di Indonesia karena pasien bisa langsung ditangani saat itu juga. Namun bedanya, di Walk In tidak ada dokter melainkan hanya perawat yang bertugas. Bila para perawat merasa si pasien butuh penanganan yang lebih intensif, maka perawat akan membuat surat rujukan agar si pasien bisa segera bertemu dengan dokter. Selain RVI, GP, dan Walk In Centre, ada klinik lainnya seperti klinik untuk mata, gigi, dan walk in yang menangani masalah sex dan kontrasepsi.  Data masing-masing pasien sistemnya terpusat sehingga kemanapun si pasien pergi tak perlu repot-repot harus isi formulir ini dan itu. Cukup dengan memberitahu NHS number saja.

Kembali ke soal hami dan melahirkan. Setelah tes kehamilan sendiri, saya pun melapor ke GP. Pihak GP kemudian meminta saya untuk memberikan sample urine untuk di cek ke laboraturium untuk dicek benar atau tidaknya saya hamil. Lalu mereka membuatkan appointment untuk saya bertemu dengan bidan yang juga praktek di GP tersebut, namanya Allison.  Sejak saat itu, setiap bulan saya harus ke GP untuk kontrol kehamilan dan seklaigus membawa sample urine. Kontrol kehamilan di GP ini dilakukan secara manual layaknya bidan-bidan di Indonesia. Beberapa kali selama kehamilan, sample darah saya diambil oleh Allison untuk dicek di laboraturiom. Hasilnya akan dilampirkan di buku riwayat kehamilan. USG baru dilakukan saat usia kehamilan menginjak 11 dan 16 minggu (kalau saya ga salah). Bila kehamilan dianggap baik-baik saja, maka usg hanya dilakukan 2x saja. Namun untuk multiple pregnancy atau kehamilan dengan resiko lainnya, usg bisa dilakukan hampir tiap bulan. Kebetulan kehamilan saya termasuk kategori yang pertama, sehingga sejak usia kehamilan 20 minggu mimpi untuk bertemu si upiak melalui usg hanya tinggal kenangan.

Usg kehamilan dilakukan di RVI, bagian maternity reward. Setiap bumil akan mendapat surat panggilan resmi dari RVI untuk datang pada hari dan waktu yang telah ditentukan. Tentu saja appoinment ini bersifat fleksibel, karena bumil bisa re-schedule bila kebetulan berhalangan dengan waktu yang telah ditentukan. Bila ingin mendapatkan print out hasil usg, bumil bisa menukarkan uang senilai £3 dengan kartu token yang nanti saat usg diberikan kepada dokter yang memeriksa. Pada usia kehamilan 25 minggu, saya kembali mendapat surat dari RVI untuk memeriksa tingkat gula darah dalam tubuh. Tidak semua bumil menjalankan tes ini. Kemungkinan karena berat badan saya yang semakin membengkak menjadi alasannya. Tapi ntah lah, saya pun tidak terlalu mengerti. Hasil tes langsung dikirim ke Allison, bidan yang menangani saya pada kehamilan ini.

Saat usia kehamilan mendekati masa melahirkan yaitu 35 minggu, hasil tes darah saya yang kedua menunjukkan bahwa HB (atau hb?) saya rendah, sehingga Allison terpaksa menambah asupan vitamin penambah darah untuk saya. Seminggu setelah itu saya kembali mendapat surat dari RVI untuk bertemu dengan dokter dan membicarakan kadar HB saya yang rendah itu. Dari penjelasan dokter saat itu yang saya bisa pahami, bahwa jumlah darah yang mengalir dan stok darah yang ada didalam tubuh saya dibawah garis normal sehingga akan membahayakan nantinya pada saat proses persalinan. Untuk itulah, dokter memutuskan bahwa hb saya harus segera dikoreksi dengan cara (saya ga tau istilah kedokterannya) memasukkan cairan yang berisi zat besi kedalam tubuh saya melalui selang seperti infus.

Keesokan harinya saya kembali ke RVI. Saat itu saya pikir saya akan ditempatkan disebuah ruangan seperti layaknya pasien yang akan diinfus. Namun ternyata saya dibawa kesuatu ruangan yang memiliki sekitar 7 kursi empuk dan tinggi. Disana telah ada beberapa ibu hamil yang juga sedang diinfus, walaupun mungkin berbeda kasus. Jadi, ibu hamil yang memiliki kasus kurang lebih sama seperti saya yang membutuhkan semacam booster infus, hanya ditempatkan disebuah ruangan dan disuruh duduk dikursi empuk tersebut, bukan ditempat tidur. Singkat cerita, akhirnya saya diinfus selama kurang lebih 1 jam. Lalu kemudian kandungan saya di cek kembali sebelum mereka mengijinkan saya pulang. Dan lagi, cek kandungan dengan cara manual layaknya memeriksa kandungan di bidan-bidan di Indonesia. Hasilnya akan dikirim langsung ke Allison sekitar 4 minggu kemudian, bertepatan dengan jadwal cek rutin saya selanjutnya. Namun saat itu bidan disana bilang kemungkinan saya tidak akan bisa datang ke appointment itu karena keburu sudah melahirkan. "But i'm pretty sure you won't make it.." begitu katanya. Saya hanya meng-aminkan didalam hati.

Minggu ke 39, belum ada tanda-tanda bahwa si baby akan segera keluar. Atas saran teman, saya sudah semakin aktif jongkok-jongkok, jalan sambil jongkok, dan olahraga ringan lainnya sambil tentunya terus beroda agar proses lahiran nanti diberikan kelancaran. Pada usia kandungan 40minggu lebih 2 hari, tepatnya pada hari senin pukul 08.40an pagi, tanda-tanda akan segera lahiran pun akhirnya muncul. Sedikit deg-deg-an, tapi Bismillah...semoga Allah mudahkan segalanya. Mba Ari, salah satu teman disini pun sudah saya hubungi untuk memberitahu bahwa sepertinya proses lahiran tak lama lagi dan kemungkinan Azzam akan dititip hari itu dirumah beliau. Ya, jauh-jauh hari saya memang sudah menghubungi mba Ari dan meminta bantuan kepada beliau untuk dititipin Azzam selagi saya lahiran kalau prosesnya terjadi malam hari. Maklumlah, disini kami tidak punya sanak saudara, jadinya teman-teman dari Indonesia lah keluarga terdekat kami di Newcastle ini.

Siang harinya, belum terasa sakit yang luar biasa, sehingga saya masih bisa beraktifitas seperti biasa. Namun pada malam harinya perut sudah mulai sakit sekali terasa. Alhamdulillah sudah mulai kontraksi. Semakin malam semakin sakit terasa sehingga suami memutuskan untuk menghubungi pihak RVI. Namun sesuai prosedur, bumil yang akan melahirkan belum boleh datang kerumah sakit sebelum kontraksi terasa per 4 atau 3 menit. Jadi walaupun sudah sakit bagaimanapun ya tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu izin dari RVI. Akhirya pukul 5 pagi, suami memutuskan untuk mengantar Azzam ke rumah mba Ari, agar kalaupun proses lahirannya pagi mba Ari bisa membantu mengantar Azzam kesekolah. Setelah kembali menghubungi rumah sakit akhirnya pada pukul 8.30 pagi saya diijinkan datang untuk melihat perkembangan bukaan rahim saya.

Begitu sampai di RVI dengan menggunakan taxi, saya dan suami langsung menuju maternity reward. Setelah melapor sebentar saya disambut oleh seorang bidan dan kemudian dipersilahkan masuk kedalam sebuah ruangan untuk dicek. Setelah dicek, sang bidan memberitahu bahwa ternyata rahim masih bukaan 1. Artinya masih ada kemungkinan besok harinya atau bahkan sampai 1 minggu lagi baru akan terjadi proses lahiran. Sedikit kecewa rasanya, tapi segera saya tepis.. Toh selama ini saya berdoa agar melahirkan disaat yang terbaik, dan saya yakin Allah Maha Tahu yang terbaik bagi saya sehingga saya optimis saat itu bukanlah saat yang terbaik. Setelah diberi paracetamol untuk sedikit meredam rasa sakit akibat kontraksi kamipun kembali kerumah. Sesampainya dirumah suami memaksa saya untuk makan walaupun sedikit. Karena sejak malam harinya saya tidak tidur, ditambah efek paracetamol akhirnya siang itu saya tertidur selama kurang lebih 2jam. Begitu bangun tidur, saya tidak terlalu merasakan lagi sakit kontraksi. Bukannya lega tapi malah membuat khawatir. Kenapa tiba-tiba rasa sakitnya hilang, apakah pengaruh obat atau ada hal yang lain. Namun rasa khawatir itu tidak bertahan lama, mulai pukul 3.45 sore rasa sakit akibat kontraksi kembali saya rasakan. Kali ini lebih kuat dari sebelumnya. Suami yang senantiasa duduk disamping saya selalu mencatat jarak waktu antara satu kontraksi ke kontraksi berikutnya. Semakin malam rasanya semakin menjadi-jadi hingga tidak sanggup untuk makan atau minum sedikitpun. Pukul 2 dini hari suami menghubungi pihak RVI karena jarak kontraksi sudah semakin cepat. Akhirnya pihak RVI mengizinkan kami datang. Segeralah suami menghubungi taxi dan membangunkan Azzam yang tengah tertidur lelap untuk diantar kerumah mba Ari lagi. Selagi suami menyiapkan Azzam, saya pun terpaksa menyiapkan diri sendiri. Sembari menahan sakit yang tidak terhingga, saya menelpon mba Ari mengabari bahwa kami akan kesana sekitar 5 menit lagi. Ntahlah saat itu mba Ari mengerti apa yang bicarakan apa tidak karena saya sendiri rasanya sudah tidak sanggup lagi untuk sekedar membuka mulut.

Beberapa saat kemudian (untunglah proses pemesanan taxi disini sangat cepat) taxi pun datang menjemput. Melihat ekspressi saya agaknya si supir taxi mengerti kalau saya dalam proses akan melahirkan. Sebelum ke RVI, kami mampir sebentar ke rumah mba Ari untuk mengantar Azzam. Walaupun jarak rumah saya dan mba Ari jika naik taxi tak lebih dari 5 menit, tapi dalam kondisi kontraksi yang luar biasa saat itu rasanya lamaaaaaa sekali.  Setelah Azzam disambut mba Ari, kami langsung meluncur menuju rumah sakit. Seakan si supir tau akan sakit yang saya rasakan, mobil melaju kencang namun tetao tenang disetiap belokan dan setiap kali berhenti, membuat saya bisa sedikit nyaman didalamnya.. Ya minimal kepala saya tidak ikutan pusing. hehe..

Akhirnya kami sampai di rumah sakit. Setelah mengambil tas perlengkapan pasca melahirkan saya dan si baby, dan membayar ongkos taksi, kami langsung masuk kedalam maternity reward yang disana saya sudah dinanti oleh seorang bidan muda bernama Caley. Sama seperti sebelumnya saya kesana, saya dibawa kedalam sebuah ruangan untuk dicek bukaannya. Alhamdulillah, sudah bukaan 5 longgar, dan saya sudah diijinkan untuk tinggal di rumah sakit. Saya diminta untuk menunggu sebentar diruangan itu sementara si bidan menyiapkan ruangan untuk saya tempati. Tak berapa lama saya dipersilahkan masuk keruangan tersebut. Jangan Bayangkan sebuah ruangan yang lengkap dengan tempat tidur khusus rumah sakit yang dilengkapi dengan monitor seperti di film-film. Ruangan yang saya tempati luas sekali. Didalamnya terdapat dipan tanpa sisi yang dialas dengan perlak pas seukuran badan saya. Didepannya terdapat kamar mandi dan toilet. Disebelah kanan dipan terdapat lantai luas yang telah dialasi dengan perlak. Didepannya, disebelah kamar mandi terdapat sebuah bath up berbentuk oval dengan ukuran lumayan besar. Karena yang masuk kamar ini adalah bumil yang diperkirakan akan melahirkan normal, maka bumil diberi pilihan untuk melahirkan di dipan, dilantai, atau di bath up atau yang lebih dikenal dengan waterbath. Saya saat itu memilih cara lahiran konvensional, berbaring di dipan saja. Didalam ruangan itu juga dilengkapi dengan westafel, sofabed, box baby, dan dinding yg berada diatas dipan ternyata adalah lemari tempat menyimpang kain-kain dan perlak-perlak untuk mengganti yang lama bila diperlukan.

Saat itu pukul 3.30, saya officially sudah dalam proses lahiran. Si bidan tadi selalu berada disebelah saya ditemani troli yang berisi perlengkapan melahirkan dan alat untuk men-cek detak jantung si baby. Setiap kali selesai kontraksi, Caley selalu memerikas detak jantung si baby dan memberitahu saya bahwa si baby sudah semakin dekat ke jalan lahir. Ya, melahirkan normal disini hanya ditemani oleh seorang bidan. seorang saja. Tidak ada asisten atau apapun sebagainya. Saya ingat dia juga mencatat setiap reaksi saya didalam secarik kertas. Untuk mengurangi rasa sakit akibat kontraksi, bumil sebenarnya diberikan pilihan untuk menggunakan epidural (suntik bius tulang belakang) atau menghisap gas yang telah disediakan ditabung seperti tabung oksigen sehari-hari bagi penderita asma. Saya pun mencoba menghisap gas tersebut, tapi berhubung sakitnya sudah tidak bisa tertahan lagi sementara gas itu butuh waktu untuk bereaksi didalam tubuh. Akhirnya saya memilih untuk tidak menggunakan penghilang rasa sakit apapun dan berjuang sekuat tenaga untuk menghandle rasa sakitnya, dibantu dengan suami yang selalu mengingatkan untuk istghfar dan jalan jihad yang disediakan untuk ibu melahirkan.

Sekitar pukul 5.30, saya sudah dalam proses melahirkan yang sebenarnya. Tapi karena sudah 2 malam tidak tidur dan belum makan apa2 lagi sejak kemaren siangnya, saya sedikit kehabisan tenaga, sehingga butuh beberapa waktu jeda selama proses mengejan. Akhirnya pada pukul 6.11 pagi, si baby lahir dengan selamat, tak kurang satu apapun. Karena faktor cuaca, baby yang lahir disini tidak dimandikan selama 24jam. Baby cukup dilap saja, lalu langsung diserahkan ke saya. Alhamdulillah, rasa sakit hilang seketika diganti semangat baru melihat si malaikat kecil itu didekapan. Namun, tidak seperti di Indonesia dimana saat pasca lahiran saya bisa berbaring dan beristirahat, disini habis melahirkan saya mau tidak mau "harus" bergerak. Ntah itu untuk pindah tempat tidur beberapa saat sehabis melahirkan, ntah itu untuk kekamar mandi untuk setor urine sebelum pukul 12 siang, ataupun untuk menjaga atau menggendong baby aisyah karena suami harus segera pergi untuk menanam plasenta, membawa pulang kain2 kotor bekas lahiran, dan menjemput si sulung dari sekolah. Hampir tidak ada waktu untuk sekedar berbaring atau beristirahat pasca lahiran karena bidan-bidan yang bertugas berganti-gantian masuk kekamar untuk melakukan overall check terhadap si baby. Baru sekitar pukul 3 siang saya bisa sedikit beristirahat karena semua test terhadap baby telah dilakukan dan hanya tinggal 1 test lagi sebelum saya diijinkan pulang.

Ya, sebenarnya pukul 1 (7jam pasca lahiran) siang saya sudah diijinkan pulang, hanya saja masih ada 1 test lagi yaitu test mata yang harus dijalankan si baby yang sebelumnya terhambat karena si baby tidak mau membuka matanya sehingga bidan tersebut memutuskan untuk menunggu hingga si baby mau membuka mata. Dan itu membutuhkan waktu yang lama hingga pada sore harinya saat si baby masih belum mau membuka mata akhirnya si bidan terpaksa membuka paksa mata si baby. Setelah urusan tests dan check pada baby selesai, kami pun diijinkan pulang. Tepat pukul 7 malam, kami sudah sampai dirumah lagi. Lalu apakah saya langsung bisa istirahat? hihihi... tidak ternyata. Saya kepikiran ayam yang sudah diungkep yang ada didalam lemari es dan kebetulan belum ada stok makanan yang sudah di defrost. Akhirnya, alih-alih istirahat, saya pun langsung kembali aktif didapur, ntah itu masak ayam balado, atau beres-beres yang lainnya.

Pengalaman yang sungguh luar biasa bagi saya pribadi. Membuat saya berpikir tentang ibu saya dahulu saat melahirkan saya. Saya masih jauuuh lebih beruntung saat disini segala fasilitasnya memudahkan saya untuk menjalankan aktifitas sehari dengan sarana dan prasarana yang mendukung. Bayangkan ibu-ibu jaman dahulu yang harus melakukan segala sesuatunya manual meskipun habis melahirkan.

Ini adalah penggalan pengalaman saya selama hamil dan melahirkan di Newcastle. Semoga pengalaman saya bisa memberi manfaat bagi yang membaca, terutama bagi saya pribadi.

Bundasibuyung
Newcastle Upon Tyne, 2014

Coklat Cake Kukus Dengan Coklat Ganache



Kue ini saya buat karena penasaran dengan resep steamed cake yang saya baca disini. Dari gambar yang ada terlihat kue nya begitu lembut. Dan sudah lama juga sebenarnya ingin makan kue coklat, namun karena suami tidak begitu suka dengan kue coklat jadinya keinginan untuk membuat kue ini tertunda terus. Beberapa hari yang lalu bertepatan dengan hari ulang tahun suami, saya pun memutuskan untuk membuat kue coklat ini. Awalnya sih beliau sudah mewanti-wanti untuk tidak membuatkan kue apapun kecuali putri ayu. Tapi saya bersikukuh bahwa kuenya nanti akan dibagi-bagi ke tetangga. Jadilah hari itu saya membuat kue kukus coklat dan putri ayu keesokan harinya.


Kembali ke si kue kukus. Kue ini hasilnya lembut sekali walaupun tanpa menggunakan emulsifier. Kemungkinan hasil lembut kue ini berasal dari baking soda dan penambahan air panas kedalam adonan sebelum kue dikukus. Kalo tidak salah namanya kimko (kimiko..??) reaction yaitu saat baking soda bertemu dengan air panas akan menghasilkan gelembung-gelembung udara sehingga kue menjadi lembut dan mengembang saat dimasak. Karena reaksinya hanya berlangsung selama 10 menit, maka kue harus segera dimasak begitu semua bahan dicampurkan.



Namun, ada sedikit tragedi kecil saat kue telah matang. Ternyata bagian bawah kue saya masih ada yang kurang matang, yaitu pas dibagian tengah-tengah dan beruntung hanya sekitar 1 ruas jari. Akhirnya saya putuskan untuk mengambil bagian yang tidak matang itu, dan akhirnya terbentuklah seperti kolam lingkaran kecil ditengah-tengah kue. Niat awal yang ingin membelah 2 kue lalu dioles coklat ganache ditengahnya pun saya urungkan. Beruntung, dirumah ada 4 box sweet strawberry, jadilah bagian permukaan kue termasuk kolamnya saya tutupi dengan coklat ganache, lalu saya tumpuk dengan strawberry diatas kolam tersebut. Hasilnya bikin saya kaget, cantik juga ternyata (itu kata saya loh... dan suami.. hehe..). Nah, karena bagian atasnya sudah menarik, saya pun merasa terpanggil untuk menghias bagian pinggirian kue. Berbekal youtube tutorial how to make ombre cake design, saya pun dengan semangat 45 langsung praktek. Tapi, teori memang tidak segampang praktek. Apalagi saya belum terbiasa untuk menghias kue, sehingga bisa dililhat digambar, hasil ombre design nya berantakan sekali. Jauh dari kata rapi. Walaupun demikian, bagi saya ini adalah salah satu kue hias saya yang paling cantik (baca: menurut saya loh, jangan bandingkan dengan kue hias yang ada di toko kue..hihihi..). Puas sekali dengan kue ini, teksturnya lembut, penampakannya pun cantik. Bolehlah untuk pemula seperti saya..hihihi..




Resepnya saya copas disini ya..

Bahan kering:
200 gr terigu serba guna
100 gr cocoa powder
1 sdt baking powder
1 sdt baking soda
1/2 sdt garam
1 bungkus vanila bubuk

Bahan basah:
3 butir telur
200 gr gula pasir
1 cup minyak sayur
1 cup susu kental manis (sweetened condensed milk)

1 cup air panas

Bahan chocolate ganache:
200 ml double cream
300 gr dark cooking chocolate (saya pakai 200 gr dark, 100 gr milk chocolate)
1 sdm mentega

Cara:
1. Panaskan air didalam kukusan. Siapkan loyang bulat, alas bagian bawahnya dengan baking paper, olesi dengan minyak diseluruh permukaan. Sisihkan.
2. Bahan basah. Kocok telur dan gula pasir sampai telur berwarna pucat dan gula larut. Masukkan susu kental manis dan minyak.
3. Ayak semua bahan kering, lalu campurkan kebahan basah dalam 3 tahap (agar memudahkan proses pengadukan), hingga semua tercampur rata.
4. Masukkan air panas, aduk cepat hingga rata. lalu segera tuang kedalam loyang. Tutup longgar permukaan loyang dengan foil. Kukus hingga matang selama kurang lebih 1 jam. Tes dengan tusuk gigi atau batang spageti. Bila tidak ada adonan yang menempel lagi di tusuk gigi tandanya kue telah matang. Bila masih ada adonan yang menempel, lanjutkan mengukus kurang lebih 10-15 menit lagi. Cek setiap 5 menit sekali. Setelah matang, angkat dr kukusan, keluarkan dari loyang. Dinginkan.
5. Selagi menunggu kue dingin, buat choc. ganache. Panaskan double cream dan mentega hingga mentega meleleh (jangan sampai mendidih). Sementara itu potong-potong coklat dan taruh dalam wadah. Tuang cream panas keatas coklat. Biarkan sebentar hingga coklat meleleh dengan sendirinya, lalu kocok perlahan hingga coklat tercampur dengan cream.
6. Biarkan ganache sedikit dingin sebelum dioles keatas kue. Kue siap dihias sesuai selera.

note: semakin dingin ganache akan semakin mengental. Bila ganache terlanjur mengeras, panaskan sebentar dengan cara di tim hingga mencapai konsistensi yang diinginkan.

Bila kue telah dihias tapi masih ada coklat ganache yang tersisa, jangan buru-buru dibuang. Sisa ganache bisa dibikin jadi chocolate truffle loh. InsyaAllah di next post ya...

Anyway... selamat mencoba... ^^